Minggu, 04 Januari 2015

SEJARAH PERKEMBANGAN MASYARAKAT INDONESIA


Masyarakat Indonesia mengalami 3 fase perkembangan yang menghasilkan suatu system atau tatanan social sampai saat ini, yaitu fase komunal primitive, feodal, dan kapitalisme. Perubahan atau perkembangan tiap fase di pengaruhi oleh factor eksternal dan internal masyarakat itu sendiri. Lalu dipengaruhi oleh alam.

Awal lahir adanya masyarakat Indonesia adalah karena adanya migrasi (perpindahan penduduk) secara bergelombang di zaman grasial (es mencair) dan adanya pertumbuhan internal masyarakat yang hidup di pinggiran sungai sekitar sulawesi karena pada saat itu hidupnya masih bergantung pada alam ( homosentris)

1. Fase Komunal Primitif

Pada zaman komunal primitive corak produksi manusia pada saat itu adalah berburu dan meramu untuk mempertahankan hidupnya. Hidup mereka cosmosentris (bergantung pada alam). Alat produksinya menggunakan batu. Hubungan produksi pada saat itu kerjasama (belum ada pembagian kerja) atau kolektif. Mereka hidup selalu berpindah–pindah, ketika sumber daya alam yang dijadikan sumber penghidupan mereka berkurang atau habis maka mereka berpindah tempat. Kadang mereka bertempur ketika bertemu dengan kelompok lain untuk menguasai daerah yang memiliki sumber daya alam. Lalu kelompok yang kalah akan di bunuh atau dijadikan budak (inilah embrio dari zaman perbudakan). System politik pada saat itu dipimpin oleh satu orang kepala kelompok. Biasanya dia dipilih karena mempunyai keahlian yang lebih .

Setelah ditemukannya logam maka peralihan corak produksi di masyarakat pada saat itu yaitu dengan bercocok tanam. Mereka mulai hidup menetap, karena adanya beberapa permasalahan, salah satunya permasalahan gender. Wanita pada saat itu harus melahirkan maka mereka tidak mungkin berburu dan hidup berpindah-pindah. Maka berubahlah pola hidup mereka menjadi menetap. Pola pikir masyarakat berkembang berdasarkan kondisi objektifnya pada saat itu. Setelah itu mulai adanya pembagian tugas, ada kelompok yang berburu dan ada pula yang bercocok tanam. Hubungan produksi pada saat itu sudah ada system barter (tukar) untuk melengkapi kebutuhan masing-masing kelompok (keluarga). Dan akhirnya sampai ada yang menemukan alat tukar yang sah seperti logam. Beberapa kelompok masyarakat berpikir lebih jauh, ketika mereka melakuan pengumpulan hasil produksi mereka maka akan mendapatkan keuntungan yang lebih besar, inilah yang melahirkan system akumulasi dan dagang pada saat itu. System pemerintah pada saat itu masih di pimpin oleh satu orang, rakyat membayar upeti kepada pimpinan untuk keperluan membangun infrastruktur daerahnya. Inilah yang nantinya melahirkan system kerajaan.

2. Fase feodalisme

Pada fase feodalisme, corak produksi pada saat itu adalah tanah dan tenaga kerja yang terikat dengan tanah. Kekuasaan ekonomi politik berdasarkan kepemilikan tanah (raja).

Nilai-nilai social yang terbentuk pada saat itu adalah: primordial (kesukuan), Petriarkal, monarki absolute dan mitos. Sistem politik pada saat itu monarki absolute (kekuasaan tak terbatas) . bentuk struktur politik
  • Elit (golongan atas) : Raja, Bangsawan, Agamawan
  • Kelas bawah (low class) : rakyat biasa
Awal lahir feodalisme + 400 M, lahirnya kerajaan Tarumanegara (Kutai), puncak kejayaannya pada + 1300 M pada masa kerajaan Majapahit.

Pemberontakan yang terjadi untuk menghancurkan feodalisme yang pernah dilakukan oleh Ken Arok melawan Akutumapel, tapi hanya menghancurkan budaya pada saat itu yaitu golongan bawah tidak akan pernah menjadi kaum raja.

Kerajaan yang ada di Nusantara atau yang menguasai nusantara pada saat itu adalah kerajaan yang bisa menguasai jalur perdagangan.

Hancurnya feodalisme dipengaruhi oleh factor internal dan eksternal. Kondisi nusantara pada saat itu yang merupakan jalur sutra (jalur yang mempertemukan dunia Timur dan Barat) menjadi sasaran bangsa timur dan barat untuk menguasai. Masuknya bangsa-bangsa lain seperti Arab, Persia, dan Gujarat untuk melakukan perdagangan. Di samping itu bangsa barat (eropa) juga mulai masuk untuk menaklukan Nusantara. Selain melakukan perdagangan mereka juga melakukan penyebaran agama.

Selain itu kondisi internal nusantara yang mengalami permasalahan seperti, kerajaan yang mengalami konflik internal (perang saudara di Majapahit), dan konflik di Mataram antara Hindu dengan Islam.

Lahirnya kolonialisme yang dilakukan oleh beberapa Negara eropa seperti, Portugis, Spanyol, dan Belanda (lewat VOC) untuk menaklukan kerajaan Nusantara dan menguasai jalur perdagangan.

Kolonialisme di Indonesia lahir juga dipengaruhi oleh kondisi eksternal pada saat itu yaitu adanya Revolusi Industri di Perancis pada tahun 1789 yang menghancurkan feodalisme di Perancis dan melahirkan system kapitalisme yang membuat Negara-negara eropa memassifkan perdagangan untuk mengambil keuntungan yang lebih besar. Begitu juga yang.dilakukan oleh Belanda untuk mengambil keuntungan yang lebih besar (awalnya melalui VOC), meraka menaklukan kerajaan dan mengganti semua system yang ada di Nusantara.
Tujuan dirubah untuk melemahkan kekuatan politik feodalisme

3. Fase Kapitalisme

Kapitalisme lahir karena adanya kontradiksi antara para pedagang (Borjuasi) dengan raja yang melahirkan revolusi borjuis di Perancis 1789. Hal ini juga dipengaruhi oleh perkembangan teknologi (penemuan mesin uap).

A. VOC (1602)

VOC adalah sebuah kongsi dagang milik belanda. Mereka masuk ke Indonesia pada tahun 1602 dengan tujuan awal untuk mencari rempah-rempah. Dengan kekuatan militer yang lebih maju dari Indonesia mereka lama-kelamaan mulai ingin memonopoli perdagangan dan menaklukkan raja-raja di Nusantara.

Setelah mereka menaklukan Kerajaan-kerajaan Nusantara mereka membubarkan VOC dan mengkoloni di Nusantara mereka mengganti smua struktur pemerintahan untuk dan memanfaatkan sisa-sisa feodalisme untuk mengambil kekayaan di Nusantara lebih banyak.

B. Land Rente (1811)

Setelah mereka menguasai Nusantara, Gubernur jendral pada saat itu memberlakukan system Land Rente (sewa tanah). Setiap peteni yang ingin mengelola tanah mereka diwajibkan membayar pajak kepada pemerintah Belanda. Pajak itu dibayar kepada kepala desa yang tidak lain adalh bekas bangsawan kerajaan pada masa feodalsme.

Setalah system ini diberlakukan banyak para petani yang tidak bisa membayar pajak, dan akhirnya tanahnya diambil oleh pemerintah Belanda.

C. Culture Stelsel (1830)

Culture stelsel adalah peraturan yang dibuat oleh pemerintah Belanda pada masa pemerintahan Gubernur Jenderal Van Den Bosch. Dimana rakyat pada saat itu dipaksa menanam rempah-rempah sesuai dengan kebutuhan pasar di Dunia.

D. Politik Etis (1908)

Politik etis (Balas Budi) adalah kebijakan yang dikeluarkan pemerintah Belanda untuk rakyat Indonesia. Politik etis yang terdiri dari Irigasi, Migrasi dan Edukasi yang diberikan kepada rakyat pada saat itu yang menurut pemerintah Belanda adalah sebuah balas budi yang diberikan kepada rakyat atas penjajahan yang dilakukannya. Tapi dibalaik politik etis tersebut adalah sebuah taktik pemerintah Belanda untuk memassifkan produksi dan eksport hasil dari Indonesia.
  • Irigasi , Pmbangunan infrastruktur pengairan yang diberikan pemerintah Belanda agar hasil dari pertanian bisa lebih massif
  • Migrasi, Perpindahan penduduk yang sebenarnya bertujuan untuk memaksimalkan potensi lahan (perkebuanan) yang belum dikelola.
  • Edukasi, karena keterbatasan dari rakyat Indonesia dalam hal baca dan tulis membuat pemerintah Belanda memberikan pendidikan kepada mereka. Sebenarnya ini adalah kebutuhan dari pemerintah Belanda sendiri dalam hal administrasi.


0 komentar:

Posting Komentar